Friday, 21 December 2018

Pengertian Jaringan Kabel Coaxial Lengkap

Seperti yang kita tahu, dalam sebuah jaringan komputer, terdapat berbagai jenis kabel, seperti kabel fiber optik, kabel twisted, kabel coaxial, dan lain sebagainya. Banyaknya jenis kabel tersebut tentu juga memiliki fungsi yang berbeda-beda pula mulai dari kecepatan transfer, kualitas, hingga fungsinya dalam sebuah jaringan komputer.
Pada ulasan kali ini, jenis kabel yang akan diulas adalah coaxial. Apabila Anda sering berkecimpung dalam dunia komputer, terutama teknisi untuk jaringan komputer, pasti sudah sangat akrab dengan jenis kabel ini. Coaxial merupakan jenis kabel yang jaringan sebagai media transmisi data terarah. Terkadang coaxial juga disebut dengan BNC (Bayonet Neur Connector). Sebenarnya, pada awalnya, coaxial digunakan sebagai kabel dari antena televisi. Namun seiring dengan perkembangan teknologi jaringan dan informasi, maka kabel ini pun kerap dijadikan sebagai media transmisi data jaringan LAN.
Mengenai fungsinya sendiri, kabel coaxial menjadi pembagi dan pengatur sebuah sinyal berfrekuensi tinggi atau yang juga disebut dengan sinyal broadband. Dan pada umumnya, jenis kabel ini diaplikasikan pada topologi jaringan Bus dan Ring.

Mengenal Jenis-Jenis Coaxial Cable

Seperti yang dikatakan di atas, coaxial cable kini banyak dimanfaatkan pada jaringan komputer. Dengan begitu, ada beberapa jenis coaxial yang harus Anda ketahui. Di antaranya adalah sebagai berikut:
Thick Coaxial Cable (Coaxial Berukuran Tebal)
Thick Coaxial Cable
Thick Coaxial Cable
Jenis kabel yang satu satu ini juga dikenal sebagai “Thicknet 10Base5” yang fungsinya membawa sinyal Ethernet. Adapun Angka 5 pada “Thicknet 10Base5” menunjukkan pada segmen panjang maksimal yang dapat dijangkau oleh Thick Coaxial Cable, yakni jarak 500 meter. Mengenai ukurannya sendiri, Thick Coaxial Cable memiliki banyak sekali ukuran dan diameter yang berbeda. Diameter ketebalan yang paling umum pada jenis kabel ini adalah sekitar 10mm.
Sebagai jenis kabel yang memiliki ketebalan di atas rata-rata, maka kabel coaxial tebal ini sangat populer digunakan untuk LAN. Mengapa? Hal ini karena Thick Coaxial Cable mempunyai bandwith lebar sehingga dapat digunakan untuk komunikasi multiple channel atau broadband.
Adapun karakteristik dari Thick Coaxial Cable adalah sebagai berikut:
  • Merupakan original kabel Ethernet
  • Memiliki diameter yang cukup besar dibandingkan jenis coaxial cable yang lain
  • Pada setiap ujungnya, harus diterminasi menggunakan terminator 50 ohm
  • Memiliki batas maksimal 3 segmen peralatan yang dapat terhubung
  • Pada setiap kartu jaringan, memiliki external transceiver atau pemancar tambahan
  • Pada setiap segmen, maksimal berisi sekitar 100 perangkat jaringan termasuk repeaters
  • Batas panjang maksimal kabel adalah sekitar 1.640 feet atau setara dengan 500 meter
  • Batas maksimal jarak antara satu segment dengan segment lainnya adalah sekitar 4.920 feet atau setara dengan 1.500 meter
  • Pada setiap segment, harus diberikan ground
  • Jarak maksimal antara satu pencabang dengan pencabang lain yang bersumber dari kabel utama ke device atau perangkat adalah sekitar 16 feet atau setara dengan 5 meter. Sedangkan jarak minimal antara pencabang adalah sekitar 8 feet atau setara dengan 2,5 meter
  • Proses pemasangan dan instalasi menggunakan Thick Coaxial Cable cenderung lebih rumit
Thin Coaxial Cable (Coaxial Berukuran Tipis)
Jenis coaxial cable yang selanjutnya adalah thin coaxial cable. Jenis kabel yang satu  ini juga dikenal sebagai “Thinnet 10Base2”. Seperti halnya Thick Coaxial Cable, angka 2 pada “Thinnet 10Base2” mengacu pada maksimal panjang segmen kabel yang dapat diraih yakni hanya sekitar 200 meter saja. Pada umumnya, jenis coaxial cable dengan diameter tipis ini digunakan pada jaringan komputer yang terdapat di sekolah-sekolah.
Thin Coaxial Cable
Thin Coaxial Cable
Adapun karakteristik dari Thinnet Coaxial Cable adalah sebagai berikut:
  • Memiliki diameter yang lebih tipis apabila dibandingkan dengan Thicknet Coaxial Cable
  • Merupakan terobosan terbaru untuk menggantikan Thicknet Coaxial Cable karena tak semua jaringan komputer berskala kecil membutuhkan kabel coaxial tebal dengan kualitas yang terlalu bagus
  • Seperti halnya Thicknet Coaxial Cable, jenis Thinnet Coaxial Cable pun memiliki terminator 50 ohm di setiap ujungnya
  • Panjang maksimal adalah 1.000 feet atau setara dengan 185 meter untuk setiap segmennya
  • Untuk kartu jaringan, cukup menggunakan transceiver onboard sehingga Anda tak perlu lagi menambahkan transceiver tambahan, kecuali jika digunakan untuk repeater
  • Maksimal terdapat 3 segmen yang terhubung satu sama lain
  • Panjang minimum antara T-Connector atau penghubung dengan penghubung lainnya adalah 1,5 feet atau setara dengan 0,5 meter saja
  • Pada setiap segmen terdapat maksimal 30 perangkat yang terhubung
  • Tidak direkomendasikan digunakan pada jaringan komputer termasuk LAN

Komponen-Komponen dalam Coaxial Cable

komponen Coaxial Cable
komponen Coaxial Cable
Setelah mengetahui tentang jenis coaxial cable, ulasan selanjutnya adalah tentang komponen apa saja yang menyusun sebuah coaxial cable. Beberapa komponen tersebut adalah:
1. Centre Core / Kabel Tembaga
Komponen pertama pada coaxial cable adalah kabel tembaga yang letaknya tepat berada di tengah-tengah. Fungsi dari kabel tembaga adalah sebagai media konduktor listrik. Mengenai ukurannya, tentu saja tergantung dari jenis coaxial cable itu sendiri. Misalnya untuk Thick Coaxial Cable, tentu saja ukurannya lebih besar apabila dibandingkan dengan Thin Coaxial Cable.
2. Dielectric Insulator / Lapisan Plastik
Komponen yang kedua adalah dielectric insulator. Lapisan plastik ini membungkus bagian kabel tembaga yang berada di tengah coaxial. Fungsinya tentu saja sebagai pemisah antara kabel tembaga serta lapisan metal. Dengan begitu, maka tidak akan terjadi sebuah kesalahan listrik atau daya selama menggunakan coaxial cable.
3. Metallic Shield / Lapisan Metal
Seperti namanya, metallic shield merupakan jenis metal yang fungsinya adalah sebagai pelindung bagian inti kabel, yakni tembaga dari berbagai gangguan elektromagnetik yang mungkin berasal dari sekitar kabel tersebut dipasang. Dengan begitu, kestabilan coaxial dalam menghantarkan daya akan tetap terjaga. Untuk metallic shield, bentuknya tidaklah padat seperti halnya dielectric insulator, namun berupa kumpulan-kumpulan serabut metal yang mengelilingi bagian dalam kabel.
4. Plastic Jacket
Adapun komponen terluar dari coaxial cable adalah plastik pelindung. Jenis bahan yang digunakan tentu saja plastik layaknya kabel pada umumnya. Hanya saja ketebalan dari plastik pembungkus ini terbilang sangat baik dan sifatnya agak kaku apabila dibandingkan dengan kabel-kabel lain.
Itulah beberapa jenis komponen yang terdapat dalam sebuah coaxial cable. Apabila Anda sulit membayangkannya, Anda dapat melihat pada contoh gambar di bawah ini.
Jika Anda ingin melihatnya secara langsung, maka coba saja lihat kabel antena televisi ataupun kabel LAN yang Anda miliki di rumah. Komponen-komponen yang dimilikinya pun sama persis seperti gambar di atas.

Karakteristik, Kelebihan dan Kekurangan Coaxial Cable

Coaxial Cable
Coaxial Cable
Apabila dilihat dari komponen-komponen yang menyusun coaxial cable, maka dapat ditarik sebuah kesimpulan mengenai karakteristik dari kabel ini. Di antaranya adalah sebagai berikut:
  • Keluaran dan kecepatan transmisi data yang dimiliki adalah sekitar 10 MBps – 100 MBps
  • Ukuran konektor masuk dalam kategori medium, yakni tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil
  • Panjang kabel maksimal 500 meter
Sedangkan untuk kelebihannya, kabel coaxial memiliki beberapa kelebihan seperti:
  • Harganya relatif lebih murah apabila dibandingkan dengan jenis kabel jaringan yang lain
  • Kecepatan dalam transmisi data sangat tinggi meskipun jangkauannya terbatas
Adapun untuk kekurangannya adalah sebagai berikut:
  • Instalasinya terbilang cukup rumit
  • Membutuhkan repeater yang berfungsi sebagai penguat
  • Biaya untuk pemeliharaan yang cukup mahal
Demikian sedikit ulasan tentang kabel coaxial, jenis-jenisnya, komponen, serta kelebihan dan kekurangannya, semoga bermanfaat.

Labels: ,

Friday, 14 December 2018

Tutorial Cara Memasang CCTV Lengkap

Pada panduan ini saya akan fokus untuk membahas cara menghubungkan semua perangkat CCTV secara fisik agar menjadi satu kesatuan sistem CCTV yang terintegrasi.CCTV memang perlu disetting terlebih dahulu sebelum bisa kamu gunakan(khususnya DVR) namum pada bab ini saya akan fokus untuk membahas cara merangkai komponen CCTV.

skema installasi perangkat cctv

Memasang konektor dan Kamera CCTV
Kamu bisa memasang konektor BNC model ulir/twist ranpa peralatan khusus,cukup cutter/piso dan tang biasa untuk memotong kabel dan mengulir konektor.Setelah semua terpasang maka akan nampak seperti dibawah ini

cara memasang konektor dan kamera cctv


Cara Memasang konektor BNC
Ada 2 jenis konektor BNC yaitu model ulir(twist on type) dan model jepit yang memerlukan alat (tang crimping) saya sangat menyarankan agar menggunakan konektor BNC dengan jenis ulir karena hanya memerlukan tang biasa untuk memutarnya.

1. Kupas Kulit luar kabel coaxial dengan dengan panjang kira-kira 1.5cm
mengupas kabel coaxial rg59 untuk memasang konektor cctv

mengupas kabel coaxial rg59 untuk memasang konektor cctv


2. Tekuk keluar kabel ground(serabut) dan kupas shield bagian inner(solid) dengan menyisakan inner shield sekitar 0.3cm/3mm.mengupas inner shield kabel coaxial rg59

mengupas inner shield kabel coaxial rg59


3. Pasang RG6 Male F-connector model ulir(twist on type) menggunakan tang biasa untuk mengulir. 

 memasang konektor CCTV


4. Usahakan untuk mengulir hingga potongan inner shield sejajar/rata dengan dasar konnektor untuk menghindari innner bengkok/koslet ke ground.

mengecek hasil saat memasang konektor cctv


5.Usahakan panjang inner/core cooper tidak berlebihan dan tidak kurang juga,karena jika terlalu panjang akan merusak konektor pasangan nya dan jika kurang akan menyebabkan sambungan kendor. Idealnya adalah 0.3-0.5cm diukur dari tepi konektor luar.

panduan pengukuran pemotongan panjang inner cooper konektor cctv


Cara Memasang konektor DC12v

Untuk memasang konektor DC 12v sangat mudah,cukup kendorkan sekrup pada konektor menggunakan obeng plus lalu masukan kabel merah pada lubang bertanda + dan kabel hitam pada lubang bertanda – dan kencangkan dengan obeng plus.


Cara Memasang DVR dan Power Supply CCTV

Saat kamu membeli DVR biasanya tidak disertakan dengan HDD,jadi kamu hanya perlu membuka DVR dengan melepaskan sekrup menggunakan obeng lalu memasang HDD menggunakan konektor yang telah disediakan pada paket/box DVR.
cara memasang konektor power dc12v untuk cctv



Cara Memasang HDD DVR CCTV

Setelah casing DVR dibuka,biasnaya telah disertakan kabel data,kabel power dan sekrup untuk mengencangkan HDD di DVR.

1.      1. Pasang sekrup pada HDD dengan posisi yang kendor agar bisa dimasukan ke dvr

memasang skrup pada HDD untuk DVR


2.      2. Pasang kabel power dan kabel data (SATA) baik di HDD ataupun soket DVR

memasang kabel power dan data SATA HDD pada DVR CCTV


3. Kencangkan sekrup HDD menggunakan obeng dengan membalikan DVR terlebih dahulu



Cara Memasang Power Supply Khusus CCTV
Power supplu khusus CCTV biasanya telah dilengkapi dengan box dan terminal untuk memasang kabel, cukup pasang kabel merah pada soket dengan tanda + dan kabel warna hitam pada soket dengan tanda –


cara memasang power supply untuk kamera cctv


KESIMPULAN
Merangkai dan memasang komponen CCTV sangatlah mudah,karena kamu hanya perlu membaca label,melihat bentuk konektor untuk menghindari kesalahan pemasangan.Sebenarnya bentuk socket telah didesain seunik mungkin untuk meminimalisir orang awam salah lobang/masang,asal kamu gak ngawur pasti mudah sekali untuk memasang nya.

Labels: ,

Wednesday, 12 December 2018

5 Masalah CCTV Yang Paling Sering Terjadi

Permasalahan kamera CCTV kerap menjadi kecemasan teknisi CCTV dan juga vendor, yaitu ketika melihat hasil gambar dari kamera cctv di layar monitor yang tidak sesuai dengan harapan. Hasil gambar CCTV  silau, goyang dan bergaris merupakan ciri khas dari problematika kamera CCTV. Karena sulitnya, seringkali untuk mengatasi masalah CCTV, dipakai cara coba-coba (trial and error). Penerapan teknik trial and error ini bukan tanpa alasan, mengingat sumber gangguan tidak bisa diketahui dengan pasti. Kita hanya bisa melihat gejala yang tampak pada hasil gambar, tanpa bisa memprediksi sebelumnya. Pada uraian kali ini CCTV GARUDA SEMARANG ( Pusat Penjualan Kamera CCTV Murah ) mencoba mengelompokkan jenis-jenis masalah kamera CCTV dengan harapan penanganannya bisa dilakukan dengan harapan bisa membantu para teknisi dan vendor untuk memecahkan masalah-masalah CCTV.




5 Masalah CCTV yang paling sering terjadi :

1. Gambar Silau (Whiting out)
Hasil CCTV silau umumnya terjadi saat kamera CCTV melihat benda yang memantulkan cahaya. Contoh sederhana dalam masalah ini adalah sinar matahari atau lampu yang jatuh di atas lantai maupun dinding berwarna putih. Demikian juga di paving block di halaman, atap mobil box dan ruangan  dengan lampu TL yang menyebar rata semisal factory outlet, studio foto, ruang QC di pabrik dan lainnya. Pada kondisi seperti ini, camera dengan F Stop rendah cenderung "gagal" dalam  menangkal cahaya kuat. Adakalanya saat camera ditundukkan ke bawah, gambar menjadi normal, tetapi sayang objek yang ditangkap tidak sesuai dengan keinginan client


2. Gambar Pudar (Faint)

Hasil CCTV pudar ditandai dengan melemahnya warna di semua tepi dari objek yang ditangkap. Penyebab utama biasanya dari kabel yang panjang atau kualitas kabel yang jelek serta power supply yang lemah (drop). Bisa juga dari sambungan connector yang kurang baik (sekalipun hal ini jarang dituding sebagai penyebab utama).


3. Gambar Bergelombang (Waving)

Hasil CCTV goyang umumnya disebabkan oleh interferensi dari frekuensi rendah, misalnya frekuensi listrik 220V/50Hz dari PLN atau genset.  Bisa juga disebabkan oleh faktor Ground Loop yang kerap terjadi pada instalasi kabel coaxial yang panjang.


4. Gambar Bergaris

Hasil CCTV bergaris disebabkan oleh gangguan frekuensi tinggi seperti lokasi yang berdekatan dengan pemancar radio siaran, radio amatir dan CB (citizen band). Masing-masing gangguan memiliki ciri khas. Jika gangguannya terus menerus, maka dipastikan dari pemancar radio siaran, sedangkan apabila sesekali namun sering, maka gangguan tersebut berasal dari komunikasi radio amatir atau CB.


5. Gambar Meteorit

Istilah meteorit adalah istilah teknis CCTV. Gejalanya mirip seperti meteor atau komet yang "menghiasi" layar monitor. Penyebabnya adalah induksi dari motor-motor listrik seperti bor, generator, dinamo mesin dan semisalnya.
Setelah jenis gangguan cctv dikenali dengan cermat, maka kita dapat memulai troubleshooting kecil-kecilan. Seperti halnya pasukan yang akan terjun ke medan perang, ada baiknya jika kita menyiapkan seperangkat "senjata lengkap" berupa peralatan penunjang. Berikut ini adalah list peralatan penunjang yang sangat membantu dalam troubleshooting CCTV di lapangan.

1. Camera CCTV Standar atau Dome yang cukup baik sebagai referensi. Usahakan camera cadangan ini memiliki salah satu feature berikut: TDN (True Day&Night), DNF (Day&Night Function) atau SDNR (Super Dynamic Noise Reduction).
2. Fixed lens dengan F Stop 1.6 atau 2.0 (milimeter bebas).
3. Power supply 2A (Switching).
4. Battery 12V/4AH (lengkap dengan clip dan jack DC).
5. ST-BT01Q atau sejenisnya.
6. Multimeter Digital.
7. Ground Loop Isolator GL001 (sebaiknya 2 buah).
Daftar di atas telah mencukupi untuk satu kali troubleshooting. Sedangkan jika ingin lebih serius lagi, maka kita harus siapkan pula filter-filter tambahan seperti : Video Transformer Filter, High Frequency Blocker dan EMI Filter. Oleh karena kita belum mengetahui seberapa besar kekuatan musuh, maka makin lengkap peralatan penunjang, tentunya lebih baik.

Baiklah kita mulai dengan 2 contoh kasus yang sering ditemui saat ini, yaitu gambar bergaris (kasus elevator camera) dan redup-terang.


1. Elevator Camera Problem

Gejala (symptom): Saat lift diam gambar bagus, tetapi saat lift bergerak gambar bergaris-garis.


Kemungkinan Penyebab: 

1. Induksi listrik pada kabel coaxial yang berdekatan dengan kabel power lift.
2. Koneksi kabel coaxial kurang baik.
3. Power supply lemah.


Alternatif Penanganan

1. Hubungkan output camera (ujung kabel coaxial di ruang mesin lift) langsung ke monitor. Lihat hasilnya. Jika bagus, maka masalahnya ada pada kabel ke monitor di control room.

2. Supply dulu camera dengan battery 12V/4AH, lalu amati gejalanya. Jika masalah hilang, maka dipastikan sumber gangguannya adalah dari power adaptor (karena saat memakai baterai, gambar bagus, bukan?). 

3. Selanjutnya: pisahkan sumber listrik untuk adaptor camera dengan power untuk lift. Kalau perlu, gantilah adaptor camera dengan yang lebih baik (jenis switching) atau pasanglah EMI filter pada jalur 220V yang diperuntukkan bagi adaptor camera.

4. Jika point 2 di atas masih bermasalah (gangguan belum hilang), cobalah tambahkan GL001 pada output camera, lalu amati gejalanya. Boleh juga dicoba dengan memasang GL001 di kedua ujung kabel : satu di output camera dan satu lagi di input monitor.

5. Bila perlu, untuk sementara ganti camera dengan camera cadangan, lalu amati hasilnya. Jika gangguan hilang, maka sumber masalah ada pada camera.

6. Selesaikan dulu masalah di titik ini (di ruang mesin lift) sebelum mengatasi masalah di Control Room (DVR).

7. Jika di ruang mesin lift tidak ada gangguan, namun saat tiba di control room gangguan kembali muncul, cobalah untuk tetap menggunakan dua buah GL001 yaitu: satu di output camera dan satu lagi di input DVR (yang ada di control room).

8. Jika masalah tak kunjung hilang juga, pertimbangkanlah untuk menggunakan teknik video balun.


2. Lighting Problem

Gejala (Symptom): saat lampu TL dinyalakan, gambar redup-terang berulang kali (gambar berdenyut).

Kemungkinan Penyebab: cahaya lampu berada pada titik ambang (threshold) electronic shutter lensa.


Alternatif Penanganan:

1. Pastikan power supply bekerja baik (gunakan ST-BT01Q).
2. Jika ada, tempatkan DIP switch FL (Flickerless) pada posisi ON pada standard / box camera .
3. Pilihlah lensa dengan F Stop besar (misalnya 2.0).
4. Jika masih mungkin, mainkan arah camera sampai gangguan hilang atau berkurang.
5. Ganti camera dengan camera cadangan, amati hasilnya.

Kasus-kasus seperti ini lebih banyak memerlukan trial and error yang cermat dan ketenangan dalam analisa, sebab antara satu kasus dengan lainnya berbeda. Dalam menangani kasus seperti ini, terkadang lebih diperlukan seni ketimbang sains. Maka, kami mengatakan bahwa mengatasi masalah pada camera it's more art than science.

Masalah yang sering muncul dalam pemasangan CCTV Pabrik.

Pada instalasi camera cctv di pabrik dan plant, 2 (dua) masalah serius yang sering dialami dalam pemasangan cctv:

1. Interferensi Kamera
2. Hasil Gambar kamera gelap di malam hari.

Mengatasi interferensi telah berlalu pembahasannya yang pada intinya lebih memerlukan seni ketimbang sains. Point penting dalam hal ini adalah mengenali penyebabnya dan melakukan "trial and error" berdasarkan basic knowledge yang "mumpuni". Inilah yang kami maksud dengan ungkapan more art than science, artinya kita tidak perlu analisa dengan teori yang rumit-rumit, sehingga menyebabkan over analisa (walau kadangkala kamipun melakukannya tanpa sadar!). Untuk interferensi kami cukupkan sementara sampai di sini.
Sekarang, bagaimana mengatasi gambar gelap di malam hari? Wow, ini malah lebih artistik lagi! Beberapa parameter yang tertera dalam spesifikasi camera ternyata bisa "berjatuhan" di lapangan. Hal ini disebabkan survey lokasi kebanyakan dilakukan pada siang hari, sehingga kita tidak mengetahui persis bagaimana kondisi medan di malam hari. Pada beberapa tempat, perbedaan kondisi ini cukup membuat heran para pemula. Rekaman DVR memperlihatkan adanya perbedaan yang kontras antara hasil gambar di siang hari dan malam hari. Inilah yang menjadi topik bahasan kami kali ini.
Sebelum menganalisa lebih jauh, marilah kita uraikan kembali masalah ini. Intinya, untuk aplikasi outdoorsemua camera CCTV tetap memerlukan cahaya yang memadai pada malam hari, tak terkecuali infra red camera (IR Cam). Mengapa demikian? Infra red camera tetap memiliki daya jangkau yang terbatas. Silakan buktikan sendiri, kalau mau. Jadi, untuk lokasi outdoor yang gelap total, maka jarak pandang IR camerapun terbatas pula. Hal ini disebabkan infra red yang terserap oleh objek di sekitarnya (terutama pepohonan, rumput dan tanah). Dari sinilah faktor desain kembali memegang peranan (penting). Sampai seberapa perlukah kita memakai infra red camera? Ataukah lampu di lokasi yang ditambah? Dua pertanyaan ini harus dimunculkan, agar antisipasinya bisa dilakukan di awal penawaran, bukan setelah camera terpasang

Kembali pada persoalan camera gelap di malam hari. Camera dengan feature Day&Night bisa mengatasi hal ini ketimbang camera tanpa DNF (Day&Night Function), sekalipun ia memiliki parameter lux yang rendah. Beberapa vendor sering mengunggulkan parameter lux yang rendah ini, padahal parameter ini "ibarat buah simalakama". Lux rendah memang diperlukan pada malam hari, namun pada siang hari camera akan silau. Untuk itulah parameter D&N kita libatkan, sebab camera jenis ini memiliki rentang pengaturan cahaya yang sangat baik.
Setelah mendapatkan camera D&N, maka selanjutnya kita lihat kembali parameter lain yang terlibat. Ada lagi yang disebut TDN (True Day Night). Sekalipun tidak pernah diuraikan secara rinci oleh pabrik, tampaknya untuk malam hari camera ini lebih baik ketimbang hanya D&N saja. Parameter lainnya, yaitu ICR dan DSS. ICR (IR Cut-off Removable) dipilih apabila kita menghendaki penambahan lampu Infra Red yang terpisah untuk membantu penglihatan di malam hari. DSS tidak bisa melakukan itu, karena ia tidak merespon cahaya lampu infra red yang diarahkan ke dalam gelap.
Selanjutnya parameter SDNR (Super Dynamic Noise Reduction). Parameter inipun turut andil dalam memberikan citra di malam hari dalam hal kehalusan detail. Dengan parameter ini, gambar akan terlihat halus, tidak kasar sebagaimana dialami oleh camera yang "menderita" di malam hari.
Jadi kesimpulan kami, untuk menangani camera gelap di malam hari setidaknya kita perlu mempertimbangkan salah satu paramater berikut: D&N Function (DNF), True Day Night (TDN) dan SDNR. Ilustrasi di bawah ini memperlihatkan, kendati cahaya malam hari relatif kecil, namun camera tanpa IR pun bisa bekerja sempurna (at least in our humble opinion!).

What's New on CCD TV Lines?

Secara sederhana parameter TV lines (TVL) dalam CCTV menyatakan jumlah garis telusur (scanning) yang dihasilkan oleh camera untuk membangun satu image utuh pada monitor. Sekilas maknanya hampir mirip dengan pixel (singkatan dari picture element)Kendati dasar teorinya berbeda, tetapi baik istilah TV lines ataupun pixel sama-sama menyatakan seberapa halus suatu gambar bisa terbentuk. Umumnya dikatakan, makin besar parameter ini, maka hasil gambarnya akan semakin halus. TV lines pada camera standard saat ini umumnya 380TVL. Setelah itu naik ke 480TVL, kemudian 530TVL dan 550TVL untuk kategori camera yang high resolution. Camera standard 380TVL pada umumnya sudah bagus, malah sering didapati warnanya lebih tajam ketimbang camera yang high resolution. Dari beberapa percobaan random, mayoritas staf teknik kami (tidak semua) lebih memilih warna nge-jreng yang dihasilkan oleh camera standard 380TVL daripada warna yang natural dari camera High Resolution. Hal ini mungkin disebabkan mata kita sudah biasa "tertipu" oleh penguatan warna.


Dalam banyak hal camera High Resolution walau bagaimanapun memberikan citra warna lebih natural, misalnya warna kulit manusia, daun dan pepohonan akan tampak lebih alami. Camera jenis ini bisa pula digunakan untuk mengamati corak kain, warna-warni kain, warna karpet dan untuk percobaan di Lab (misalnya untuk mengamati perubahan kalor). Dari percobaan kami, camera high resolution masih dapat memberikan gambar yang "terlihat" pada kondisi cahaya kecil dibandingkan dengan camera standard 380TVL. Inilah salah satu kelebihannya.
Temuan fenomenal saat ini -pada saat artikel ini dibuat- khususnya yang berkaitan dengan parameter TV lines adalah camera dengan resolusi 600TVL. Dikombinasikan dengan beberapa parameter lain seperti SBLC (Super Back Light Compensation), TDN (True Day&Night), DNR (Dynamic Noise Reduction), maka bisa dikatakan camera 600TVL ini unggul pada level cahaya rendah (low light) dan tentu saja dalam hal kehalusan detail di siang hari.
Rule of Thumb

Sebagai penutup, berikut CCTV GARUDA -CCTV SEMARANG MURAH sampaikan sekali lagi beberapa hal pokok yang berkaitan dengan penanganan gangguan camera. Semoga uraian ini bisa membuka wawasan kita.

1. Sumber Tegangan Camera CCTV (Adaptor / Power Supply)
·         Periksalah tegangan camera terhadap kemungkinan drop akibat panjangnya kabel power.
·         Periksalah drop tegangan dengan tester ST-BT01Q. 
·         Coba beri dulu power camera dalam jarak dekat, lalu amati hasilnya.
·         Test dengan battery 12VDC guna memastikan gangguan tersebut bukan berasal dari adaptor.
·         Untuk camera DC, pastikan adaptor memiliki tegangan minimal 12VDC / 1A.
·         Upayakan sumber tegangan untuk adaptor camera tidak satu group dengan beban-beban induktif lain, seperti: lift/elevator, mesin produksi, pompa air, motor listrik, lampu TL, dispenser dan semisalnya.
·         Jika perlu, gunakanlah EMI Filter pada listrik 220V.


2. Instalasi Kabel CCTV
·         Coba ganti dulu camera bermasalah dengan camera baru (camera cadangan), amati hasilnya. Jika gangguan masih ada, maka kemungkinannya adalah dari panjang kabel atau drop power supply, bukan dari cameranya.
·         Coba terapkan teknik Ground Loop Isolator (GL001).
·         Untuk kasus interferensi hindarilah dulu penggunaan Video Amplifier sampai ditemukan akar masalahnya.


3. Faktor Luar

Kenali juga faktor luar yang turut andil dalam menciptakan gangguan, misalnya:
·         Posisi camera yang berdekatan dengan sumber interferensi. Coba jauhkan dulu posisi camera bermasalah dengan cara memasang camera cadangan di lokasi lain, namun tetap memakai kabel coaxial itu. Amati hasilnya.
·         Adanya kabel coaxial (RG59 / RG 6 ) yang sejajar/paralel dengan lintasan kabel tegangan tinggi. Adapun jika kabel coaxial saling berpotongan dengan kabel listrik, maka kecil kemungkinannya untuk terjadi interferensi .
·         Adanya refleksi dari objek silau atau licin seperti lantai, ventilasi udara (lubang angin), atap mobil box, lampu infra red yang bersilangan antar camera satu dengan yang lain dan semisalnya.
·         Adanya cahaya kuat yang langsung menerpa camera (pelajari kembali soal F Stop).
·         Kondisi cahaya yang lemah di malam hari (coba ganti dulu dengan Day&Night camera atau pasang penerangan tambahan, sebelum memutuskan menggantikannya dengan IR Camera).


Kamera CCTV Berembun?

Peristiwa embun sebenarnya merupakan bagian dari kehidupan keseharian kita. Contohnya: ketika mengendarai mobil saat hujan dengan penumpang penuh dan ac mobil ngadat, maka tak ayal embun akan menyelimuti seluruh kaca mobil. Demikian pula dengan air es yang dituangkan dalam gelas, maka setelah beberapa lama bagian luar gelas akan basah, bukan? Inilah yang dinamakan peristiwa pengembunan atau kondensasi. Menurut definisinya, embun adalah peristiwa perubahan wujud uap menjadi cair akibat adanya selisih suhu. Pada kasus mobil di atas, suhu di dalam mobil lebih hangat ketimbang di luar, sehingga terjadilah embun di bagian yang hangat, yaitu di dalam mobil. Sebaliknya, pada kasus air es di dalam gelas, embun terjadi di luar gelas, karena di luar gelas suhunya lebih hangat. Jadi, kesimpulannya embun terjadi pada bagian yang lebih hangat. Semakin besar perbedaan suhunya, maka terjadilah tetesan-tetesan air.

Kembali pada kasus camera, saat terjadi hujan, maka suhu di luar akan menjadi dingin, sementara suhu di dalam camera lebih hangat akibat dari kerja rangkaian elektronik. Oleh sebab itulah terjadi pengembunan (persis seperti pada kasus mobil di atas). Sebenarnya ini peristiwa lumrah, namun cukup mengganggu. Setiap factory memiliki cara masing-masing untuk mengantisipasi hal ini, misalnya dengan memasang pipa kapiler, memperbaiki material, mengurangi disipasi daya agar rangkaian tidak panas serta upaya lainnya. Akan tetapi adakalanya masalah ini masih menggelayuti sebagian produk walaupun skalanya tidak besar. Nah, jika mengalami masalah ini, cobalah untuk memasang silika gel di dalam camera. Silika gel seperti ini banyak ditemui pada kemasan kapsul obat, dus sepatu ataupun produk elektronik, dengan ciri khasnya yang berupa peringatan "Do not eat". Jika bisa membeli, belilah silika gel yang baru, lalu pasanglah di dalam camera dengan bantuan double tape. Silika gel tidak boleh lama-lama terekspos ke udara bebas, karena kemampuannya menyerap uap air akan berkurang. Ilustrasi pemasangannya bisa seperti gambar di bawah ini atau disesuaikan dengan bentuk camera lainnya.
Tapi perlu diingat, pada sebagian casing produk weatherproof camera di sana tertulis "Do not open". Untuk camera jenis ini kita tidak disarankan untuk membukanya -karena bisa merusak garansi- kecuali jika camera tersebut memang sudah mengalami pengembunan dan kita bermaksud memasukkan silika gel ke dalamnya.

MASALAH CAMERA CCTV INFRA-RED
PENYEBAB MASALAH CCTV

Tanpa melihat jenis cameranya -apakah jenis dome atau bullet secara umum penyebab gangguan pada camera infra-red CCTV GARUDA SEMARANG akan membagi ke dalam dua faktor, yaitu: internal dan eksternal. Faktor internal adalah gangguan yang berasal dari dalam cameranya sendiri, seperti:

1. Pantulan lampu / LED infra red (sering terjadi).
2. Lingkaran hitam di tengah-tengah (halo effect).
3. Pengembunan.
4. Lensa yang tidak fokus.
5. Kualitas material cover.
 Adapun faktor eksternal adalah gangguan yang berasal dari luar camera (tepatnya: di lokasi pemasangan). Beberapa diantaranya adalah:

1. Adanya dua camera IR dalam satu ruangan yang dipasang berhadapan.
2. Reflective object (objek yang memantulkan cahaya).
3. Debu dan kotoran -misalnya sarang laba-laba- yang menempel pada cover.
4. Sidik jari pada cover.

Pantulan dari lampu infra red

Persoalan inilah yang boleh dikatakan paling sering terjadi. Penyebabnya bisa bermacam-macam, namun sebagai pedoman  (rule of thumb) dalam troubleshooting, bisa dirinci sebagai berikut:
1. Hindari refleksi dari dalam casing. Ketahuilah, bahwa semakin naik arah camera mendekati 90 derajat, resiko pemantulan semakin tinggi, karena cover dome bagian dalam akan tampak dan memantulkan infra red. 
2. Hindari juga objek yang memantul, seperti: lantai, dinding, langit-langit dan permukaan lain yang berwarna putih. Selain menimbulkan efek silau di siang hari, objek seperti inipun berpotensi memantulkan infra red di malam hari.
3. Jangan memasang casing tambahan atau memasang camera di balik kaca.
4. Perbaiki posisi semua karet penutup, baik di sekitar lampu led, maupun di sekeliling camera, jangan sampai miring atau dudukannya tidak pas.
5. Kencangkan semua sekrup cover camera (jika ada) jangan ada yang longgar.

Lingkaran di tengah-tengah (halo effect)

Pernahkah anda melihat hasil gambar camera infra red pada kondisi gelap seperti ini? Masalah ini bisa saja terjadi, bahkan pada merk yang termasuk bagus sekalipun.
Gejala ini sering disebut sebagai halo effect dan ini sangat lumrah terjadi di beberapa tipe camera infra red. Penyebabnya adalah lampu / LED infra red yang terlalu menyebar dan memantul melalui cover dalam intensitas kecil. Walaupun kecil, tetapi dampaknya sangat menganggu. Sekali lagi, masalah ini bisa diatasi dengan menerapkan salah satu dari rule of thumb di atas. 

Pengembunan

Masalah ini kerap terjadi, khususnya pada camera tipe outdoor, walau tidak menutup kemungkinan terjadi pula pada tipe indoor yang dipasang di outdoor.

Lensa yang tidak fokus

Ada seorang client mengganti lensa camera infra red standar pabrik (6mm) dengan lensa 3.6mm dengan harapan bisa memperoleh pandangan yang lebih lebar. Namun, apa yang terjadi? hasilnya malah terlihat buram dan tidak fokus. 

Kualitas material cover (Housing Camera CCTV)

"Ada harga ada barang", demikianlah pameo yang selama ini sulit dipatahkan. Kualitas cover / housing cctv memang ikut andil dalam menciptakan pantulan. Cover yang mudah buram dan tergores, boleh jadi merupakan biang keladi dari semua itu. Berbeda dengan cover yang bening, kokoh dan halus, maka permasalahan ini bisa diminimalisir. Oleh sebab itu beberapa pabrikan ada yang menyediakan cover pengganti seandainya cover aslinya tergores atau materialnya kurang bagus. Namun -sekali lagi- sebelum mem-vonis produk, cobalah tangani dulu dengan rule of thumb di atas.

 Adanya dua camera IR indoor yang dipasang berhadapan

Jika dalam satu ruangan terpasang dua camera IR, maka kebanyakan problem yang terjadi adalah sinar infra red saling menggganggu satu sama lain. Ini ditandai dengan adanya bayangan putih, sehingga gambar tampak buram.  Penanganannya tetap mengacu pada rule of thumb mengubah arah salah satu camera. Jika ini tidak memungkinkan, bisa ditempuh dengan cara mematikan infra red di salah satu camera, bahkan di kedua-duanya. Sebagai pengganti cahaya, kita bisa menambahkan lampu downlight (bila mungkin) atau infra red illuminator pada posisi yang tepat. Selama memungkinkan, bisa juga dipertimbangkan dengan mengganti camera dengan tipe Day&Night (tanpa IR).

Pengaruh debu, sarang laba-laba, goresan dan sidik jari pada cover

Debu, kotoran atau sarang laba-laba yang menempel pada cover oleh infra red akan diterjemahkan sebagai objek yang memantul, sehingga mengganggu kualitas gambar.
Satu hal lain yang sering luput adalah sidik jari. Saat menutup camera -khususnya yang berjenis dome- adakalanya sidik jari kita menempel pada cover tepat di depan lensa. Hal ini menyebabkan camera menjadi buram dan memantulkan infra red. Cover transparan pada camera dome senantiasa dilindungi oleh lembaran plastik dan baru dilepas saat cover sudah terpasang. Namun, saat membuka cover kita jarang memperhatikan hal kecil ini. Akibatnya, cover dome penuh dengan bekas sidik jari. Tidak heran jika ada pabrik yang melengkapi produknya dengan sarung tangan putih berbahan halus. Jika ada, pakailah sarung tangan ini saat menutup atau membuka cover, lalu bersihkanlah bekas-bekas sidik jari dengannya.


Labels: